Media & Events

Editorial : Otonomi.co.id : Desain Pakaian dari Tenun Baduy, Riri Rengganis Utamakan Keaslian June 29 2017

https://www.otonomi.co.id/ragam/desain-pakaian-pakai-tenun-baduy-riri-rengganis-utamakan-keaslian-1704074.html


TV Show : MNC Fashion People : Riri Rengganis June 28 2017

This is just a 6 minute preview of the full 30 minute episode which was all about me and my event last April in Alun Alun Indonesia called "Handmade in Indonesia, Boundless Inspiration". The event consisted of a retail exhibition, trunk show, and 3 workshops. 

Click here to see the video.


Design Your Own Kebaya Workshop June 18 2017

During my major event of a retail exhibition, trunk show and workshops all in one - “Handmade In Indonesia, Boundless Inspiration” - at Alun Alun Indonesia, Grand Indonesia, Jakarta, I held a “Design Your Own Kebaya Workshop” for the first time. It may look like just a fun weekend activity for ladies with artistic curiosity, but for me there is something else far more important. As a part of the general goal to increase the public’s appreciation towards traditional textiles and the Kebaya culture, this particular workshop gives me a chance to actually experiment on facilitating people to create their own version of the Kebaya according to their taste. What does this mean? Well… it means, if I can do this more often, and preferrably for the younger generation, I can actually facilitate them to express their individuality in the form of a wearable Kebaya. For the new generation, the Kebaya can be their media, and the motifs they design will definitely represent how the Kebaya culture can actually move forward following trends of modern time.

So… if I can do another workshop, but this time with creative teenagers or young artists, can you imagine the possibilities?! I am really hoping the opportunity comes up soon!


Handmade in Indonesia, Boundless Inspiration April 15 2017

Trunk Show - Exhibition - Workshops

Trunk Show photos by Ferry Kana
Makeup & Hairdo by Wardah Cosmetics
Venue supported by Alun Alun Indonesia
Models : The "real women" of FSRD ITB (Fine Arts & Design Faculty, Bandung Institute of Technology) class of 1994-1991
Wardrobe : Indische, Rengganis and #BaduyTransposed
Live performace by : West Java Syndicate

Dalam rangka memperingati Hari Kartini di bulan April 2017, Indische menggelar kegiatan bertajuk “Handmade in Indonesia : Boundless Inspiration” yang dilaksanakan pada tanggal 31 Maret hingga 13 April 2017 (2 minggu) di Alun-alun Indonesia (Grand Indonesia, Jakarta), dengan program acara berupa workshops, trunk show, dan pameran produk.

Tujuan dari acara ini sebenarnya bukan hanya untuk sekedar merayakan Hari Kartini, tetapi saya ingin merayakan besarnya potensi warisan budaya Kebaya dan Sarung. Menurutku, apresiasi masyarakat Indonesia terhadap fashion bernuansa etnik sudah cukup besar, tapi masih beberapa hal yang dirasa masih perlu dilakukan. Maka dari itu, rangkaian acara ini merupakan satu kesatuan yang saling mengisi dan bukan hanya sekedar promosi, yaitu :

  1. Edukasi konsumen : mengajarkan konsumen (lokal maupun asing) untuk dapat membedakan batik tulis & cap vs. print, bordir tangan vs. komputer, kemudian membedakan tekstil katun, rayon, sutera, polyester dsb. Hal ini sangat penting demi kelanjutan industri kreatif kita khususnya tekstil tradisional agar konsumen mampu menghargai tekstil tradisional dengan benar sesuai masing-masing kualitasnya yang sangat berragam. Namun agar menarik, workshop dikemas dengan pengenalan “ethnic styling” yang menyenangkan dan bermanfaat secara langsung bagi konsumen, yaitu berupa tutorial berkain serta pengenalan jenis-jenis kebaya klasik dan kontemporer.
  2. Pameran & Trunk Show : untuk semakin membuka wawasan konsumen akan luasnya pilihan fashion bertema etnik, dan meyakinkan bahwa style ini bisa cocok untuk semua orang. Sosialisasi mix-n-match dengan berbagai macam asesoris juga diperlukan agar konsumen semakin kreatif dalam styling
  3. Workshop mendesain motif kebaya : mengajak keterlibatan masyarakat awam dalam mendesain sendiri kebaya yang mereka inginkan. Secara tidak disadari, ini menjadi media untuk memfasilitasi bergeraknya kultur berkebaya seiring perkembangan jaman.

Besar harapanku, acara ini menjadi langkah awal yang membangkitkan antusiasme berbagai pihak untuk dapat mendukung program kegiatan serupa yang akan berkontribusi dalam kemajuan industri kreatif di Indonesia, khususnya fashion yang memanfaatkan tekstil tradisional.

Seperti biasa, saya paling senang membuat acara yang melibatkan teman sendiri… kenapa? Pertama, rancangan saya lebih “hidup” kalau dipakai oleh “real women of different shapes and characters”. Kali ini saya mengajak teman-teman sealmamater, ibu-ibu pelaku kreatif lulusan Seni Rupa ITB angkatan 91 hingga 94 (alias sudah berumur 40an). Kedua, ini bentuk apresiasiku kepada teman-teman semua karena dari awal sekali saya memulai berkarya, merekalah yang selalu support saya, dari yang rutin order, mengajak kerjasama event, sampai ada yang membantu memasarkan. So this reunion is for them. Yes I am damn lucky to have the best of friends, dan ini bukan untuk pertama kalinya. 2 tahun yang lalu, saya membuat photo shoot dengan melibatkan 26 teman masa SMA, yang juga tidak kalah asik hasilnya. Lihat di sini : 26 Perempuan, 26 Tahun Kebersamaan, Rayakan Aneka Warna Perempuan Indonesia.

\

 


Wanita dan Sehelai Katun Putih by RENGGANIS January 12 2017

Sifat dasar wanita : femininitas dan kesederhanaan berpadu dengan kerumitan berpikirnya... sangat menyerupai sifat kain katun putih polos yang lembut jujur apa adanya namun ketika diberi sentuhan bordir atau manipulasi lainnya, mampu menunjukkan karakter yang begitu kompleks.

Koleksi ini menggambarkan interpretasi saya mengenai sosok wanita yang sekilas tampak sederhana, tetapi jika didekati, ada banyak cerita di baliknya. Maka desain ini pun ibaratnya tanpa pencitraan [warna] dan tanpa siluet yang menyolok [longgar, tidak terlalu menunjukkan lekukan tubuh]. Tetapi dengan bahan putih polos seadanya dipadu dengan cutting yang asimetris atau draping yang dibesarkan (exaggerated) ditambah manipulasi bordir, krawang, applique dan opnaisel menjadikan karya yang bersih namun memikat dengan detail (clean but intricate). Penambahan aksen batik dan tenun yang sangat sedikit tapi tepat, membuat kepolosan koleksi ini menjadi hidup tanpa rasa berlebihan.

Biasa mendesain pakaian yang kental warna dan nuansa etnik (dengan spesialisasi di kebaya) untuk market wanita Indonesia di bawah brand Indische selama 8 tahun, kali ini saya ingin bebas dari pengaruh kebaya dan batik, tetapi tetap konsisten menunjukkan skill terbaikku dalam melestarikan bordir. Memang sudah direncanakan sejak tahun lalu, bahwa di 2017 ini saya akan memperkenalkan fashion line baru bertajuk RENGGANIS, dengan konsep yang tetap bernuansa handmade namun lebih kontemporer dan wearable oleh market global. Dengan demikian, maka perlahan ke depannya Indische akan semakin fokus mendalami keindahan kebaya dan kekuatan "heritage" bangsa yang sarat dengan makna demi mengangkat kecantikan wanita Indonesia yang begitu beragam bentuk tubuh dan usianya. Sedangkan semua casualwear dan koleksi Ready-To-Wear lainnya akan bernaung di bawah nama RENGGANIS.

Show ini diadakan dalam rangka IFC New Member Inauguration Show, 11 January 2017, bersama 44 anggota baru lainnya. Secara resmi saya sekarang bergabung dengan asosiasi fashion yang tergolong baru tapi cukup berpengaruh ini. Pada kesempatan luar biasa inilah, saya rasakan sebagai momen yang tepat sekali untuk memulai lembaran baru perjalanan karir saya sebagai desainer, karena untuk pertama kalinya saya maju dengan nama sendiri. Bismillah.

Liputan media :

http://majalahkartini.co.id/mode-kecantikan/mode/koleksi-rancangan-baru-indonesia-fashion-chamber/

Backstage photos :


The High Cost of Culture - my serious weekend getaway in Bali November 21 2016 1 Comment

Traditional textiles. Sustainable business. Cultural conservation. It all sounds just too sexy for me, but in reality, it is much more about saddening truths and challanges. 

I once asked my sociologist father, why is it so hard for a country to preserve its cultural heritages? As long as the products still have economical value, isn't the culture of craftsmanship and its philosophies worth keeping? I’ve been too naive. So after long discussions I was finally sinking into understanding that culture is simply NOT to be preserved. It evolves and moves forward, and all we have left of the past are artifacts sitting in museums. 

But wait… Lets look around us. Indonesia has so much cultural heritage in the form of traditional textiles. Thousands of different handweaving or batik techniques and motifs with each of their own philosophies. Collectors and fashionistas chasing after every tradeshows and galleries, at high prices. So why are the artisans still struggling to even survive through their next meal?

Everyday, a master weaver dies without giving her knowledge to the next generation. Everyday, a girl decides she would rather go to school or work in the city rather than practice her ancestors’ way of life crafting a piece of fabric for weeks. Everyday, this culture is dying.

Culture is about ways of life, based on life values. Culture is full of purpose and reason, or as many say “local wisdom”. So remember that our ancestors made textiles for rituals and everyday use with all the unique beliefs of every island. You have different textiles for wedding ceremonies, funerals, farming, and so on. But today, this culture may not be so relevant anymore, and that is why the only reason the skills are still alive are for economical purposes. And once economy steps in, what happens then? The high cost of culture cannot be sustained anymore.

Meet Threads of Life. Founded over 15 years ago by I Made Maduarta, Jean Howe, and William Ingram, Threads of Life is a fair trade business that works along the mindset for conservation of the Indonesian textile culture. The heirloom-quality textiles and baskets are commissioned using local materials and real traditional natural dyes to the highest standards, mostly for overseas collectors’ market. They work directly with over 1,000 women on 11 islands across Indonesia, helping weavers to form independent cooperatives, to recover the skills of their ancestors, to manage their resources sustainably, and to express their culture identity while building their financial security.

“Threads of Life encourages weaving communities to revive techniques of weaving and natural dyeing that are in danger of disappearing. We provide economic and technical support while cooperatives research and rediscover local practices, a process that can take years to complete. The result is a sustainable, natural, traditional method of textile production, with complete cultural integrity. The process and the results move the weavers to great pride of ownership, and inspire the extraordinary quality of their work.”

Click here to see this video of William Ingram speaking for TedEx Ubud. 

Last week I was very fortunate to have the opportunity to meet the founders on a 2-day Bali excursion with Wastra Indonesia (an informal group of passionate Indonesian Textile enthusiasts). On the first day, Jean Howe presented how the business started out. An inspiring story of passion and professionalism. She showed us samples of the products in their gallery which were to die for!!! I never really looked at weavings this upclose, with such a different level of quality compared to the ones I regularly see in tradeshows.

On the second day, we visited Bebali Foundation, their Indonesian non-profit organization that helps weavers who live in remote, under-developed villages. Sustainable businesses require sustainable resources. With botanical research and field workshops, the Bebali Foundation helps communities fully understand the resources they use and develop management plans that preserve their forests and raise their incomes. This also includes growing a beautiful garden of plant species used for the natural dyes.

Here we learned how they research and apply traditional ways of natural dyeing for all the textiles made for Threads of Life. They have been digging for dye recipes from so many islands which are each differently determined by the region’s weather, earth acidity, which plant species grow there, etc. A quick overview and demo of the materials and techniques they use here, was a real eye opener for me. What I just realised is that there are 2 main ways to naturally dye textiles : with natural dyes + the traditional natural processes (such as fermentation, natural oils, etc), and the other is with natural dyes + chemical process (which is faster and more economical) but cannot be said 100% safe for the environment. At Threads of Life, they use the 100% natural processes, to preserve the complete ancient weaving culture of Indonesia.

They have been doing this for over 15 years, and the research of the world’s hundreds of plant species used for natural dyes is far from finished. The techniques and machinery for handweaving, the philosophies of motifs and colors are still being documented one by one in a huge database. So, back to the main issue… why spend all the effort to try preserving a dying culture? My subjective answer would be : it’s personal, and it’s a personal choice. We can choose to do something that has meaning for ourselves beyond economy, which is for a sense of identity, and perhaps pride or ego. But after the discussions we had in these short 2 days, I finally got another answer, and a good objective one. William Ingram explains that if you look at the market as a pyramid, where the top is the small high end market and the bottom is the wide mass market, Threads of Life positions itself at that highest point. The goods they produce are still made with the same methods as textiles to be worn for traditional ceremonies. So the local wisdom is still intact. Whereas other textiles made for the mass market and souvenirs are thriving, but they won’t have ANY value whatsoever if the stories of the original culture disappears. So Threads of Life is trying to elevate the top end of the pyramid to an even higher position, reach as close as possible to rediscovering the disappearing original traditions in weaving, to create a new market of collectors that are willing to buy newly made textiles with the exact same processes, rituals and philosophies as the antiques. Reaching this niche market will make more room for everyone else to produce textiles at many levels : ranging from high quality reproductions, to mass produced souvenirs, and also contemporary ethnic designs which are inspired by the local wisdom. But as William says, he will only have work to do as long as the culture itself still exists. Once those ceremonies are never done anymore, then his work is also done. 

My conclusion on this, is we can choose what we want to sell, based on our capacity of how deep we want to carry the stories of culture, and can claim to have a “local content” or "inspired by local wisdom", as long as we have a full understanding of where we stand. Don’t just copy a traditional motif without knowing the original meaning. Don’t claim it is handwoven in a certain region when in reality you are buying the fabric from a reseller which doesn’t actually tell you where it was made. Don’t say it’s 100% eco friendly when In reality it was only naturally dyed but chemically processed. Because what happens at the top of the pyramid is what we have to hold on to in order to make our product’s stories valid. This is a continuing process for myself, as I still have so much to learn. 

In the mean time, research and documentation of every aspect of Eastern Indonesia's weaving culture (this is Threads of Life's area of expertise) is still a huge pile of homework. Threads of Life's contribution is large, but ironically, after 15 years, our little group's visit was the first one ever made by local Indonesians. In fact, even our government has never put interest in what they are doing. In my point of view, of course they are just a business. But the kind of business they represent is very inspiring and should be more appreciated by us Indonesians. It is a sad truth that the traditional ways of producing textiles is disappearing, but as long as somebody is willing to spend the rest of their lives guarding it, we can still enjoy the heritage and help create jobs for our own people by promoting it for as long as we can. 


Baduy Transposed : Traditional Textile Meets Contemporary Design September 11 2016

Ketika beberapa bulan lalu saya bercerita ke teman-teman bahwa saya mau mendesain dengan kain Baduy, tidak sedikit dari mereka yang berkomentar serupa : “Untuk apa garap Baduy?”, “Mereka sudah over exposed”, “Apa bagusnya kain mereka?”... dan pertanyaan yang paling membuat saya berpikir adalah “Memangnya Baduy perlu ditolong industri tenunnya? Bukannya mereka juga tertutup terhadap segala macam bentuk pengembangan? Apalagi ekonominya! Nanti malah problem ketika kamu butuh kain jumlah banyak” dan seterusnya ...

Tapi saya hanya tersenyum… Karena saya punya alasan tersendiri mengerjakan proyek ini.

Berawal dari ide dari Isti Dhaniswari (seorang teman, senior kuliahku di Desain Produk ITB dan trend researcher yang membuat buku Trend Forecasting setiap tahunnya untuk pelaku kreatif Indonesia), saya diminta untuk tengok dari dekat kain Baduy, di sebuah acara bagus sekali bernama Baduy Kembali, pameran dan diskusi yang diadakan oleh Kompas.com di Bentara Budaya Jakarta. Di situ mereka menampilkan segala aspek sejarah, kultur, alam Baduy termasuk dampak-dampak sosiologis dan ekonomis yang sedang terjadi di sana. Artefak-artefak budaya menenunnya pun dipamerkan dengan apik. Di situlah saya jatuh cinta dengan hasil tenunan mereka. Sederhana, geometris, bertekstur. Dan 100% katun!!! And I thought to myself : “Now THIS …. is what I need for my next collection!”

Sudah lama saya sebenarnya ingin mengembangkan koleksi baru yang lepas dari “pakem” Indische yang siluetnya kadung sangat tradisional/etnik. Walaupun saya juga membuat banyak casualwear, tetap saja Indische tidak bisa lepas dari "image" Kebaya dan batik. Sedangkan saya ingin membuat sesuatu yang bisa diterima oleh konsumen yang lebih luas, bahkan bisa mengenalkan kekuatan tekstil "handweaving" Indonesia di ranah fashion modern/global, karena prediksi saya, pasar akan mulai jenuh dengan fashion gaya “etnik” yang cenderung ramai, kurang elegan dan “not for everyone”. Maka terjadilah eksperimen ini. Tekstil Baduy, digarap dengan metoda Trend Decoding berdasarkan buku Isti, GreyZone 2017/18 Trend Forecasting. (Sumpah, ini buku berguna sekali! Yang bergerak di bidang desain, wajib punya buku ini!)

Tujuan dari project ini adalah eksperimentasi untuk membuktikan bahwa tekstil Baduy layak untuk dijadikan bahan fashion, tanpa harus banyak merubah desain maupun teknik produksinya. Ada beberapa brand lain yang sudah lama membina pengrajin Baduy dan mempromosikan produknya dengan sangat bagus, melibatkan pengembangan desain yang mendalam dari sisi motif maupun teknik pewarnaannya. Itu bagus sekali, tapi berbeda dengan tujuanku pribadi, yaitu ingin menciptakan desain sederhana yang memungkinkan penyebaran sourcing ke seluruh desa. Yang ingin saya lakukan adalah justru memanfaatkan motif dan warna apa adanya, sehingga mudah bagi seluruh masyarakat tenunnya untuk membantu supply bahan sehingga tidak begitu sulit untuk memenuhi demand pasar (KALAU terbukti desain-desain saya laku lho ya, boleh dong optimis).

Selama 2 bulan lebih saya garap desain koleksi baru ini, otomatis saya banyak bertanya soal permasalahan yang dihadapi oleh pengrajin dari segi produksi hingga marketing : keterbatasan sumber benang, proses pewarnaan, dan persoalan-persoalan lain sebagainya. Ini kalau dibahas jadi panjang. Tapi yang paling penting buat saya adalah menjawab pertanyaan : apakah eksplorasi tenun Baduy ini memang berguna untuk mereka? Karena dulunya, masyarakat Baduy Dalam memulai budaya tenun dengan diwajibkan memakai hasil tenunan sendiri setiap harinya, bukan untuk diperdagangkan. Maka sering terpikir, kita-kita ini yang mengeksploitasi mereka jangan-jangan malah mengganggu kultur dan kehidupan mereka yang damai!

Tetapi fakta berkata lain. Ternyata, penduduk Baduy Dalam sendiri sekarang sudah jarang menenun lagi. Masyarakat Baduy Luar sudah mengambil alih “budaya” menenun ini menjadi sebuah “sumber ekonomi”. Saat ini, ada sekitar 700 penenun tersebar di wilayah Baduy Luar dan menurut hasil sensus ekonomi pemerintah 2015, hasil tenunan para ibu-ibu ini sudah mengkontribusi lebih dari 60% nilai ekonomi seluruh wilayah Baduy Luar, melebihi penghasilan dari para suami (dari kerajinan lain, tas koja, gula aren dan berladang). Maka dari itu, tidak ragu-ragu lagi lah saya, untuk melanjutkan proyek ini karena berarti ini sudah menjadi sebuah industri (walau kecil) yang layak dieksplorasi. Kendala teknis seperti kapasitas produksi, sumber bahan baku, pemasaran, dll. juga serupa dengan apa yang dialami kelompok pengrajin daerah lainnya di Indonesia sehingga ini layak dijadikan studi kasus penerapan prinsip Slow Fashion. Cita-cita saya memang suatu saat bisa menggarap tekstil berbagai wilayah, dengan pola pendekatan yang sama seperti ini.

Lalu, kembali lagi ke pertanyaan : Untuk apa garap Baduy? Mereka kan sudah over exposed?

Jawaban saya adalah "tidak ada istilah over exposed selama pengrajinnya masih butuh order". Yang saya buat di sini tidak istimewa, desainnya sangat sederhana dan tidak menjual cerita filosofi ataupun karakter ke”Indonesiaan” sama sekali. Bahkan desain ini bisa saja muncul dari desainer belahan dunia manapun. Tetapi justru itu yang ingin saya capai… Hanya untuk membuktikan bahwa kain tradisional yang sederhana ini bisa menjadi sesuatu yang menarik, berkualitas dan sesuai trend pasar modern.

Semoga semakin banyak desainer lain yang terinspirasi untuk memakai tenunan asli buatan tangan ini, demi semakin berragamnya karya fashion tanah air, serta wibawa tenunan Baduy mulai disejajarkan dengan tenunan wilayah-wilayah eksotik lainnya.

Untuk melihat koleksi lengkapnya, klik sini.

 


Media Coverage on Baduy Transposed September 11 2016

Warta Kota, 11 September 2016 :

Other links on this story :

Female Kompas : Riri Rengganis : Tenun Baduy Beda dengan Tenun dari Daerah Lain

Female Kompas : Riri Rengganis Gabungkan Konsep Kontemporer dengan Tekstil Tradisional

Puan Pertiwi


Baduy, Brands & Trends : Pengembangan Ekonomi Berbasis Kultural September 03 2016

03 September 2016, Galeri Soemardja, Institut Teknologi Bandung

Didukung oleh Ikatan Alumni ITB, MBA CCE ITB, ASoMBA, BEKRAF, dan Gloya by Kriya Nusantara

Di acara ini lah koleksi Baduy Transposed pertama ditampilkan. Sebuah acara sederhana yang dikemas secara "small but meaningful" seperti yang diungkap penggagasnya Isti Dhaniswari, diharapkan menjadi bentuk gagasan awal yang bisa menjadi sesuatu yang lebih besar nantinya, melibatkan pihak-pihak yang lebih banyak dengan persiapan acara yang lebih lengkap guna menunjukkan kepada masyarakat bahwa kelompok penggiat ekonomi kreatif Ikatan Alumni ITB ini ada dan bisa berbuat sesuatu yang berarti.

Seperti biasa, saya dibantu model-model volunteer, kali ini dari mahasiswi ITB dan beberapa teman cantik lainnya. Terima kasih banyak untuk semua pihak yang sudah dukung acara kecil ini, juga kepada Kompas.com yang sudah meliput. 

 


Editorial : Koran Sindo, 2 August 2016 August 02 2016


Ethnic Styling Workshop by Riri Rengganis : Educating Consumers on Different Materials and How to Wear Traditional Textiles June 18 2016

(Untuk versi Bahasa Indonesia scroll ke bawah)

A lot of my designer friends have already done so much in terms of giving back to the society, by going to villages and small industries to share knowledge through workshops, or developing local products with added values through design. But I have a different approach. I feel that just adding value to local products is not enough, if the majority of the consumer is still like this : searches for the cheapest, and refuses to understand what is behind the products they buy. Especially when it comes to batik, most common consumers intend to buy batik with pride in helping the local economy, but instead they don’t realize that they are just wearing printed fabric (which might have been imported from China). So to balance the spirit of making things better, I will focus on educating the consumer. 

It’s titled “Ethnic Styling Workshop”… but the hidden agenda is actually to share how to differentiate handdrawn (tulis), stamped, and printed batik. Also a quick guide to differentiate between cotton, silk, rayon and polyester, because it is important to choose the right fabric for making an embroidered kebaya.



The styling tutorials on how to wear sarongs, and kebaya designs is the fun part of the workshop. The more variations we know and can create, the more confident we are in collecting traditional textiles, which at the end of the day, helps the local craftsmen too.


Enjoying traditional textiles doesn’t need complicated understanding of the origins and philosophy of each motif. For those who are interested, there are tons of books to read. But for us who are super busy, we can still make a difference, through small steps. Understand and believe in what you buy. Are we enjoying fashion just for the style? Or are we also conserving culture and helping the local economy? Hopefully the participants went home with a more critical, positive and creative mindset. I will develop this workshop into an important routine event, for the better of the local craftsmen, and consumers. This is my way of giving back.

Thanks to Sandy Cmnk for the cozy gallery. It's just perfect for a workshop like this!
Thanks to Nanang S. Damardono & Dewi Wulan Sari for the photos!!!

________________________________________________________


Sebenarnya sudah banyak bentuk pengabdian teman-teman desainer yang masuk ke desa / industri kecil : dengan membuat workshop untuk pengrajin, atau mengembangkan produk baru dengan sentuhan desain untuk meningkatkan value produk lokal. Tetapi kalau saya pendekatannya lain, walau tujuannya sama. Menurutku, percuma produk lokal dimaksimalkan valuenya, kalau mayoritas konsumennya tetap begini-begini saja : cari murah, dan tidak mau mengerti. Apalagi urusan batik, tidak sedikit konsumen umum yang bermaksud berbangga membantu ekonomi lokal dengan memakai batik, tapi tanpa disadari dia hanya memakai tekstil print (yang mungkin import dari Cina). Jadi untuk menyeimbangkan semangat ini, saya fokus dulu di urusan edukasi konsumennya.

Judulnya Ethnic Styling Workshop… tapi sebenarnya misi terselubungnya adalah untuk berbagi tentang cara membedakan batik tulis, cap dan print. Juga panduan membedakan antara katun, sutera, rayon, dan polyester, karena menyangkut pentingnya pemilihan bahan yang benar untuk dijadikan kebaya.

Soal styling kebaya dan cara ikat mengikat kain tradisional itu sebenarnya materi bonus tapi menjadi bagian paling seru untuk daya tarik peserta. Dan tentunya semakin banyak variasi yg bisa kita kreasikan, semakin percaya diri kita untuk mengoleksi tekstil tradisional, dan itu juga menolong pengrajin kita.

Menikmati tekstil tradisional tidak perlu rumit-rumit mempelajari asal usul dan filosofi setiap motifnya. Kalau memang berminat mendalami, sudah banyak buku-buku yang bisa dipelajari. Tapi kita-kita yang super sibuk ini bisa “make a difference” dari langkah kecil. Yakinlah tentang apa yang kita beli. Apakah kita menikmati fashion hanya sekedar karena kita suka stylenya? Atau di balik itu kita juga melestarikan budaya dan menolong ekonomi pengrajin lokal? Semoga para peserta pulang dengan pemikiran lebih kritis, lebih positif dan kreatif. Workshop ini akan menjadi kegiatan rutin saya, demi kebaikan sesama pengrajin lokal maupun konsumennya. Inilah bentuk pengabdian saya.


8 Tahun Indische - Sebuah Catatan Kecil April 09 2016

Daya tahan sebuah brand fashion seluruhnya bergantung pada konsistensi kualitas desainnya. Bukan desainnya yg harus mirip terus, tetapi tingkat kedalaman konsep dan realisasinya yg harus konstan. Maka pelanggan tau bahwa dari musim ke musim, mereka bisa ikut tumbuh bersama perkembangan style brand tersebut, tanpa rasa bosan tapi tetap setia pada karakternya.

Bersyukurlah Indische sudah berumur 8 tahun dan masih bertahan, bahkan bertambah pelanggan setia setiap tahunnya.

Dulu dan kini - Semangat yang telah berubah terhadap produk lokal cukup terasa. Masih teringat hanya 10 tahun lalu selalu saja mendengar atau bahkan merasakan sendiri rasa sedih karena bangsa kita susah sekali diajak mengapresiasi produk dalam negeri, apalagi kalau terbentur perbedaan harga yg fantastis antara produk lokal berkualitas yang mahal dibandingkan dengan produk branded (pdhl KW buatan lokal juga) yang ditemukan di FO. Saat itu, sering jadi orang "sceptic" dan putus asa untuk membangun brand sendiri.

Tak terasa hari ini semua sepertinya sudah sangat berubah. Semangat masyarakat terhadap budaya dan produk lokal, luar biasa sudah berubah menjadi lebih baik. Tentunya semua berkat usaha semua orang, baik pelaku kreatif Indonesia, retailers yang masih idealis (seperti Alun Alun Indonesia), pihak media yang terus menggempur masyarakat dengan informasi2 kebaikan produk2 lokal, dan masyarakatnya sendiri yang sudah semakin cerdas.

Lanjutkan!


Indonesian Culinary & Fashion Delights 2015, Fashion Show at Lisbon Portugal January 02 2016

Created by the the Indonesian Embassy of Lisbon, Portugal, this event was meant to promote the culture of Indonesia, in a new way other than the usual "evening of traditional food and dances". They wanted to present something more relevant.

Introduction to Helianti Hilman's amazing Javara Indigenous Indonesia's finest artisanal & heritage food products and live demo of Chef Rahung Nasution's cooking is hoped to inspire, and actually make it possible for people abroad to make Indonesian inspired cuisines.

The culinary experience was also supported by a vast menu of delicious traditional homecooking by the Indonesian community in Lisbon, and each menu is personally served in "warung style" and ingredients are explained to every guest.

Whereas Indische was presented to show people how Indonesia's signature design and craftsmanship can actually be transformed into something wearable by everyone, starting from the casual kebaya to contemporary summerwear.

I think it is a smart concept that should be perfected and adapted into Indonesia's other cultural missions around the world, because the potentials are widened towards possible trade rather than only introducing the culture.

Bravo to the amazing team of our embassy staff at Lisbon especially Pak Pof Yusuf who passionately went beyond his duties to make this happen. I hope we can collaborate again in the future!!

And thanks to the models who were actually university students who volunteered for this event. You are gorgeous!

Necklaces supported by Glue Indonesia by Grace Indira Patty.

Earrings supported by Trapart by Nunun Tjondro

Makeup by Ana Delgado

Balinese Gamelan by the Portuguese group Bateria

 

Behind the Scene


Jakarta's Youth : Brains & Beauty - Fashion Show Modelled by University Students October 02 2015 4 Comments

Design Thinking Seminar & Talk Show by HDII (Himpunan Desainer Interior Indonesia) - Photography by Ferry Kana & Gogor Pandu - Location : Indonesia Convention Exhibition BSD City Jakarta

2 months ago, Indische had the amazing opportunity to dress up 26 everyday women, who are my childhood friends, all now over 40 years old. They turned out beautiful, and we realised how easily Indische can be styled to fit women of all sizes. Read the complete story here.

And today, another interesting event came up. I had a solo fashion show in front of Jakarta's young university students, with them as the models as well! And guess what? They looked gorgeous also!!! So I am confident to say that Indische really can be worn by EVERYONE. 

I was informed about the fashion show just 10 days before. It was a private show for design students and practitioners who were attending the Design Thinking Seminar & Talk Show held by HDII (the Indonesian Interior Designer Association). The theme of the seminar was about personal branding, reinventing heritage, and it also happened to be Indonesia's National Batik Day. Luckily, it only took a couple of days to collect 13 girls and 2 boys from Interior Design & Architecture students from various universities in Jakarta (Universitas Indonesia, Trisakti, Mercubuana, and Binus). And oh my.... the girls were sooo pretty.... Brains and beauty at its best! 

After the show 

Behind The Scene

To make sure this fashion show would run smoothly, I asked my multi-talented friend Grace Indira Patty to help me out with the choreography, music arrangement and additional make-up. I have known her for over 25 years and I've wanted to collaborate with her for so long. At last the opportunity has come! It was such a blessing to experience working together with her even for just 2 days. For sure more will happen in the future.

The preparation of the clothes and the show was really easy... But for days I was very nervous because for the first time, I was going to do the make up myself. Yes, crazy as it sounds, I wanted to be in control of it because too many times I have seen fashion shows done by make up artists, which ended up too thick, too old, or simply too much. With the assistance of Grace, and one of my favorite models Annisa Zani who does better eye brows than me, the three of us succeeded in keeping the girls looking smart, fresh and young. 

Talking to these girls while putting on their make up gave me such a positive feeling about what I thought was an unpromising young generation. Particularly some.... who are smart, ambitious, and beautiful at the same time, they have so much opportunities and challenges ahead. 

And my message to them : at your age, you can do anything. Learn everything. Then find your passion. Once you find your passion, love it and work hard for it, and life will be good. 

 


26 Perempuan, 26 Tahun Kebersamaan, Rayakan Aneka Warna Perempuan Indonesia September 21 2015 3 Comments

Fotografi oleh Ferry Kana - Busana oleh Indische - Make Up & Rambut oleh Berti - Jilbab Styling oleh Ira Syafitri - Lokasi : The Kartipah, Bandung 

Perkenalkan, ini teman-temanku. Kami semua adalah ibu-ibu biasa yang berkeluarga dan bekerja seperti kebanyakan wanita lainnya. Passion yang tinggi membuat kami bahagia karena bisa mencintai pekerjaan yang kami lakukan, dan mengerjakan apa yang kami cintai. Semangat ini lah yang membuat seorang wanita bisa tampil percaya diri dan cantik dengan caranya sendiri-sendiri, berapa pun usianya. Dan sepertinya, itu sudah mendarah daging di antara seluruh teman-temanku seangkatan di SMA Taruna Bakti ini. Maka di saat tercetus ide membuat sebuah reuni, kami serempak tahu, ini tidak akan menjadi reuni biasa. 
Baca selengkapnya tentang persahabatan unik Taruna Bakti.

17 Agustus 2015, adalah hari kami berkumpul, untuk memaknai kemerdekaan Indonesia dengan cara kami sendiri. Sebuah piknik, sekaligus photo shoot untuk mengeksplorasi sisi “Wanita Indonesia” kami yang bermacam-macam bentuknya.

Cuaca bersahabat menemani piknik dengan iga bakar dari Iga Dullers. Catat ya, itu minumannya temu lawak asli, bukan bir!

Cemilan yang bikin ga bisa berhenti, homemade nachos dari Letta's Kitchen.

Tampaknya memang kami terlalu bersenang-senang. Tapi jangan salah! Bermain-main dengan styling pakaian, make-up & asesoris bergaya “lokal” ini bukan hanya soal kesenangan perempuan dengan fashion, tapi ini persoalan sumbangsih kepada ekonomi negara dan pelestarian budaya bangsa. Kadang kita perlu mengingatkan diri sendiri tentang siapa kita, dengan cara yang sederhana. Apa lagi yang bisa kita perbuat, selain berbangga jadi perempuan Indonesia? Teruslah berkarya. Hargai perbedaan yang membuat kita semua unik tapi satu. Bawakan diri sebagai wanita Indonesia yang keren, apapun bentuk tubuh dan usia kita!

Baca selengkapnya mengenai Mencintai Produk Lokal, dan Patahkan Stereotip : Tampil dengan Gaya Etnik untuk Tubuh Berukuran Besar.

Merdeka!

 


Profil Wanita Indonesia : Ina Pribadi Syarifien - Terapis Acupressure & Reflexology September 20 2015

Ina, dari dulu sifatnya lembut, tidak tegaan dan peka terhadap orang lain. Ternyata, sampai dewasa pun masih selalu terpengaruh oleh kepekaannya terhadap penderitaan orang lain karena rasa sakit atau sedih. Melihat itu sebagai sesuatu yang positif, ditambah dukungan dari ayahnya Agoes Syarifien (Terapis & Pendiri Yayasan MD Multidimensi), Ina serius mendalami 3 ilmu pengobatan dari Cina yang sudah terkenal ribuan tahun lalu, yaitu refleksologi, acupressure & hipnoterapi.

Walau lulus dari kuliah jurusan Hukum di Universitas Katolik Parahyangan, Ina jatuh hati dengan ilmu pengobatan holistik karena bisa berguna untuk orang lain tetapi tetap bisa dijalani seimbang dengan mengurus rumah tangga.

Ina sudah menjalani praktek resmi sejak 2005, dan membantu pasien berbagai penyakit fisik (antara lain syaraf, jantung, kista, diabetes, program kehamilan, candu narkoba), maupun non fisik (depresi, stress). Dia menekankan, bahwa dia bukan penyembuh, tetapi membantu melancarkan, menyeimbangkan, menetralkan,mendetox, merelaksasikan, menenangkan tubuh, pikiran dan jiwa.

 

Praktek :

MD (Muli Dimensi) Natural Healing

Jl. Cirendeu Permai Raya no. 10C, Kompleks Cirendeu Permai, Ciputat Raya, JakSel

Jl. Soka Raya Ai No. 10, Kompleks Kemang Pratama 2, Pekayon, Bekasi

Jl. Serayu No. 3A, Bandung

Jl. Terusan Ir. Sutami 3 No. 2, Bandung

Tel. 087781105095 / 081910009222 (Bandung)

Line/WA 081584284899

Izin Praktek Dinas Kesehatan : 448.2/66/BPPT/2013

 

Ina memakai tunik Aisyah, sabuk Mega Mendung Belt, dan celana panjang Knot Pants

Fotografi oleh Ferry Kana - Make Up oleh Berti - Lokasi : The Kartipah

 


Profil Wanita Indonesia : Tika Garlina - Pemilik The Kartipah Hotel, Iga Dullers, Studio 2510 Bandung & 2510 Kemang Raya 39 September 20 2015

Kalau bicara dengan Tika, tentang kehidupan, tentang anak, tentang bisnis, tentang cinta, tidak pernah membosankan. Bagi Tika, tidak ada yang kebetulan, karena semua sudah by design. Dia menjalani hidupnya berdasarkan semua impiannya, baik itu mengenai prestasi-prestasinya di bidang olah raga sejak remaja, bisnis-bisnisnya yang banyak, dan membesarkan anak-anaknya.

Mantan atlet softball PON & Sea Games, kemudian kuliah di Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB, lalu terjun ke dunia bisnis. Kalau ditanya, apa hubungannya ketiga passion ini? Katanya, olah raga adalah untuk mengalahkan diri sendiri dan ego. Prestasi yang diraihnya di olah raga hanyalah bonus. Sedangkan bisnis, adalah masalah tanggung jawab kepada orang lain, terutama anak-anak sendiri. Kuliah di bidang desain, tentunya diperlukan untuk membentuk kemampuan berpikir untuk merealisasikan semua impiannya. 

Kesibukannya sekarang adalah sekaligus menjalani berbagai bisnisnya yaitu hotel The Kartipah (Bandung), café Iga Dullers (Bandung), Studio 2510 (indekos di Bandung), dan yang baru akan dibuka 2510@Kemang (service apartment harian/bulanan berfasilitas lengkap di daerah elit Kemang Jakarta). Dengan kegiatan super sibuk begini, Tika tetap selalu rileks dan fit, karena kemampuannya mengajari para pegawai untuk selalu semangat, aktif dan turut bertanggung jawab atas kemajuan perusahaan. 

Saya masih harus banyak belajar dari Tika...

 

Facebook : The Kartipah HotelTwitter : @KartipahHotel

Facebook : Iga DullersTwitter : @iga_dullers

 

Tika memakai atasan Beskap dan celana sarung Kecak Joglo

Fotografi oleh Ferry Kana - Make Up oleh Berti - Lokasi : The Kartipah


Profil Wanita Indonesia : Arletta Danisworo - MC & Voice Over Artist, pemilik Letta's Kitchen September 19 2015

Dulu, saya menganggap suara Letta itu cempreng, dan orangnya cerewet. Tapi ternyata itu membawa berkah… Walau kuliahnya di jurusan akunting Universitas Parahyangan, sudah 20 tahun lebih Letta memilih untuk menekuni dunia komunikasi. Berkat kemampuan bahasa Inggrisnya yang di atas rata-rata, pergaulan yang luwes, dan suaranya yang khas itu lah, Letta mengawali karirnya sebagai penyiar radio (Rase FM Bandung, Female Radio, dan Hard Rock Radio Bali), kemudian berkembang ke dunia MC, TV presenter, dan Voice Over Talent. Sampai sekarang, saking seringnya mendapat pekerjaan VO, Letta jadi harus membangun studio rekaman sendiri di rumahnya agar permintaan klien dapat terselesaikan dengan cepat dan memuaskan.

Tetapi passion Letta tidak berhenti di situ. Letta’s Kitchen, salah satu program radio yang dia usung di awal tahun 2000, membuka kecintaan baru pada makanan. Walau program radio itu sudah tidak ada, tapi Letta meneruskan Letta’s Kitchen sebagai brandnya. Dengan konsep homemade comfort foods, Letta sedang mempopulerkan nachos dan enchiladas. Di kalangan Jakarta, homemade nachos buatan Letta’s Kitchen ini sudah membuat orang-orang ketagihan. Yang awalnya dijual dengan cara pesan antar, maka sekarang Letta memberanikan diri untuk membuka outlet pertamanya di Bintaro Peoples Market, Tangerang.

www.lettaskitchen.net

Outlet : Bintaro Peoples Market, Sektor 7, Bintaro, Tangerang (Opposite Lotte)

Profil pribadi & contact : http://www.letta.me

Letta memakai atasan Rinjani dengan celana sarung Kecak Manggar

Fotografi oleh Ferry Kana - Make Up oleh Berti - Lokasi : The Kartipah


Profil Wanita Indonesia : Fitri Muliati - Soprano, Pengajar Vokal, Pelatih Paduan Suara, Konduktor September 19 2015

Nah, ini dia teman slumber party saya sejak SMA. Teman curhat, teman makan, teman band (ya, dulu saya "anak band" juga lho) dan teman pertama yang memperkenalkan make up ke saya! Sahabat sejati masa remaja, dan sampai sekarang pun masih dekat di hati. 

Setahun setelah lulus dari jurusan Hubungan Internasional, FISIP Universitas Parahyangan Bandung 1999, Fitri - yang panggilan akrabnya Pitung - memutuskan untuk menjadi penyanyi dan pengajar vocal professional. Saat ini ia aktif mengajar di Resonanz Music Studio dan Wijaya Music House sebagai pengajar vokal dan Paramadina Choir sebagai pengajar vokal dan konduktor. Ia juga masih aktif bernyanyi klasik sebagai solis maupun chorister di resital-resital dan kadang-kadang sebagai penyanyi pop dan jazz di berbagai acara termasuk acara pernikahan. 

Keseriusannya di musik terutama sebagai penyanyi soprano klasik sering sekali membawanya traveling ke seluruh dunia, baik itu dalam rangka berkolaborasi dengan musisi klasik mancanegara maupun untuk berkompetisi. Sering membuahkan prestasi berbagai penghargaan internasional bagi tim yang dia dukung, (antara lain Paduan Suara Mahasiswa Universitas Parahyangan, Batavia Madrigal Singers & sebagai pelatih dan konduktor Paramadina Choir) membuat saya bangga karena ini adalah cara yang sungguh keren untuk mengharumkan nama bangsa.   

 

Facebook : Fitri Muliati

Fitri memakai atasan Black Felicia dan celana sarung Kecak Gunung 

Fotografi oleh Ferry Kana - Make Up oleh Berti - Lokasi : The Kartipah


Profil Wanita Indonesia : Jeany Ratna Komala (Ncik), pemilik NUHM Solution & Operational Manager Tonny's Catering September 17 2015

Bergerak di bidang catering sejak 1997, kemudian merambah ke wedding/event organizer di tahun 2004, nama Ncik sudah lama sekali dikenal untuk segala urusan perpestaan di Bandung. Beruntunglah saya, sempat dibantu oleh teman lama yang satu ini, untuk urusan catering saat saya menikah 9 tahun lalu! Kerjanya gesit, tapi orangnya lembut dan menyenangkan. Sehingga tidak heran, bisnisnya tidak pernah sepi, bahkan dialah yang terpilih menjadi penanggung jawab acara besar ngunduh mantu Raffi Ahmad & Nagita Slavina yang diadakan di Bumi Sangkuriang, Bandung tahun lalu. Ncik pula yang dipercaya untuk pelaksanaan pernikahan putra dari Keluarga (Alm) Jendral Feisal Tanjung di tahun 2004, termasuk penyediaan catering khusus bagi Presiden RI saat itu Bapak Susilo Bambang Yudoyono. 

NUHM Solutions, Jl. Hegarmanah no. 10, Bandung

Tel : 0816610599

Ncik memakai dress + obi belt (custom designed oleh Indische) dan kebaya Pucuk Rebung

Fotografi oleh Ferry Kana - Make Up oleh Berti - Lokasi : The Kartipah


Profil Wanita Indonesia : Reiva Farah Dwiyana, Dosen Kedokteran dan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin (dr. SpKK) September 17 2015

Dilihat dari judulnya saja, sudah tidak perlu banyak cerita soal sosok Reiva. Cantik, langsing, anaknya sudah SMA, bekerja sebagai dosen, dan dokter pula? Satu lagi : wajahnya tidak berubah sejak saya kenal dia waktu SMP! Hahahaha.... 

Dari kecil, Reiva sudah menganggap pekerjaan dokter sebagai profesi yang mulia, karena menyembuhkan orang. Tetapi setelah selesai kuliah, dorongan untuk mengajar juga begitu kuat karena dengan mendidik calon dokter, bisa menyembuhkan lebih banyak orang lagi. Lebih jauh lagi berpikir, maka sekarang fokus Reiva adalah di kesehatan dan edukasi, terutama pada anak-anak, karena menurutnya pendidikan dan kesehatan dimulai sejak lahir dan golden period berada pd 12 tahun pertama kehidupan.

Perhatian Reiva banyak tertuju pada pasien-pasien kecil yang tidak mendapatkan haknya atas kesehatan dan pendidikan yang baik, seperti korban KDRT, penderita HIV akibat orangtuanya narkoba, dll. Di samping beberapa kegiatan organisasi lainnya juga, saat ini Reiva sedang membentuk family support group untuk kasus-kasus kulit anak yg kronis, untuk membantu keluarga dan pasien agar percaya diri dan kualitas hidupnya meningkat. Harapannya, porsi APBN di bidang pendidikan dan kesehatan semakin naik. Negara akan maju kalau pendidikan dan ksehatannya baik. Dgn modal ini kita menjadi bangsa yg kuat, dan bisa bersaing. 

 

Klinik Spesialis Kulit TIVAZA, Jl. dr. Rajiman 16, Bandung

Reiva memakai Black Widow Dress

Fotografi oleh Ferry Kana - Make Up oleh Berti - Lokasi : The Kartipah


Persahabatan Lama September 17 2015

Fotografi oleh Ferry Kana - Busana oleh Indische - Make Up & Rambut oleh Berti - Jilbab Styling oleh Ira Syafitri - Lokasi : The Kartipah, Bandung 

Semua berawal dari ide teman-teman seangkatan SMA saat chatting di grup WA. Seperti biasa, ngalor ngidul seputar urusan kesenangan perempuan : dandan, baju dan makan!!! Lalu terjadilah rencana sebuah reuni yang paling dahsyat! Kenapa tidak? Sudah ada di antara kami : professional make up artist, fashion designer, jasa catering, pemilik hotel, party venue, restoran, EO, dan banyak lagi! Tetapi cerita ini bukan sekedar tentang reuni seru-seruan. Banyak hal yang ingin saya catat mengenai persahabatan unik kami ini. 

Taruna Bakti adalah sekolah yang pada jaman itu unik dengan bercampurnya murid pribumi dan keturunan Tionghoa dengan jumlah yang sama. Pergaulan anak muda yang tidak mengenali perbedaan antar etnis, agama maupun latar belakang keluarga, mengajarkan kami akan pentingnya saling paham dan kekompakan yang luar biasa sehingga membawa kami ke persahabatan yang terus berlanjut selama lebih dari 25 tahun. Juga kegiatan ekstra kurikulernya (yang untuk ukuran jaman itu sangat bervariasi), memfasilitasi kami untuk menjadi diri sendiri dan serius bidang apapun yang kami minati. Maka tidak heran, banyak di antara kami yang menjadi sukses di bidang-bidang yang kreatif dan tidak lumrah. 

Berikut adalah cerita mengenai saya sendiri dan beberapa sahabat yang ingin saya perkenalkan. Kami semua berkeluarga dan bekerja seperti kebanyakan ibu-ibu lain. Tapi passion yang tinggi membuat kami bahagia karena bisa mencintai pekerjaan yang kami lakukan, dan mengerjakan apa yang kami cintai. Baru merasakan nikmatnya "life begins at 40" bersama-sama teman lama, banyak yang kami banggakan dan syukuri terutama kesehatan dan kekuatan kami untuk terus berkarya di bidang masing-masing. 

Riri Rengganis - Fashion Designer, pemilik Indische. Baca selengkapnya di sini.   

Berti Manurung - Professional Make Up Artist. Baca selengkapnya di sini

Arletta Danisworo - MC & Voice Over Artist, pemilik Letta's Kitchen. Baca selengkapnya di sini.

Anti Gantira - CEO PT. Margahayuland Development. Baca selengkapnya di sini.

Fitri Muliati - Soprano, Pengajar Vokal, Pelatih Paduan Suara, Konduktor. Baca selengkapnya di sini.

Ina Pribadi - Terapis Multi Dimensi (MD) Acupressure & Reflexology. Baca selengkapnya di sini.

Jeany Ratna Komala (Ncik) - pemilik NUHM Solution & Operational Manager Tonny's Catering. Baca selengkapnya di sini.

Tika Garlina - Pemilik The Kartipah Hotel, Iga Dullers, Studio 2510 Bandung & 2510 Kemang Raya 39. Baca selengkapnya di sini.

Reiva Farah Dwiyana - Dosen Kedokteran dan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin (dr. SpKK). Baca selengkapnya di sini

 

Baca cerita lengkap tentang reuni ini di sini : 26 Perempuan, 26 Tahun Kebersamaan, Rayakan Aneka Warna Perempuan Indonesia

 

 

 

 

 

 


Profil Wanita Indonesia : Anti Gantira, CEO Margahayuland Development September 17 2015

Saya pertama sekelas dengan Anti saat kami di kelas 1 SMP. Teman yang satu ini sudah cukup terlihat karakternya dari dulu, asertif! Tegas dan jelas apa maunya, mungkin itu juga yang membuatnya sekarang sukses. Lulus dari Studi Pembangunan, Ekonomi UNPAD, lalu bergerak di bidang developer sejak 2003. 2 tahun terakhir ini menjabat sebagai CEO Margahayuland Development, sebuah perusahaan developer yang sudah berdiri lebih dari 40 tahun dan telah membangun lebih dari 50 ribu unit residential, offices maupun commercial area di sekitar Bandung.

Semenjak kepemimpinan dipegang oleh Anti, perusahaannya telah menerima penghargaan segudang, antara lain Indonesia My Home Award 2015, Indonesia Property & Bank Award 2015 (sebagai pengembang visioner dengan pertumbuhan tercepat), Golden Property Award oleh IPW (Indonesia Property Watch), dan Di SWA tercatat masuk dalam 250 perusahaan daerah berskala nasional. 

http://www.mrd.co.id

 Anti memakai kebaya lengan pendek Kartika dan rok lilit batik tulis Gandasari Ceplok

Fotografi oleh Ferry Kana - Make Up oleh Berti - Lokasi : The Kartipah

 


Mencintai Produk Lokal September 17 2015

Fotografi oleh Ferry Kana - Busana oleh Indische - Make Up & Rambut oleh Berti - Lokasi : The Kartipah, Bandung

Kita semua tahu, semakin banyak hasil produksi industri lokal yang kita pakai, semakin besar peran kita dalam menghidupkan ekonomi negara. Tetapi jangan berhenti di situ! Carilah produk yang merupakan hasil UKM, handmade, seperti batik, tenun dan bordir tangan. Yang akan terbantukan secara langsung adalah pengrajin-pengrajin lokal yang tekun melestarikan budaya bangsa. Mereka tidak peduli pada fashion, trend dan profit besar. Mereka hanya ingin dihargai pekerjaannya yang rumit itu.
Kalau kita rajin mencari, banyak sekali produk handmade yang berkualitas, dan desainnya cocok untuk berbagai kebutuhan, dari yang simple untuk sehari-hari, rapi untuk bekerja, nyaman untuk traveling, mewah untuk pesta, kebaya untuk acara resmi, sopan untuk hijab. Soal styling memang harus dipelajari, tapi kalau memang niat, akan menyenangkan karena kita bisa mengoleksi produk-produk yang sifatnya limited items alias tidak ada banyak di pasaran, sehingga kita bisa memiliki indivual style yang susah ditiru orang lain. Selain itu, kalau pintar-pintar memilih, banyak produk lokal yang memiliki nilai craftsmanship tinggi seperti batik tulis, tenun asli, sulaman, yang nantinya akan semakin berharga sebagai collector’s item dan menjadi harta yang dapat diwariskan kepada anak cucu kita.