Perupa Wanita : Berkarya dan Berkeluarga : Part 1 February 04 2018 1 Comment

Ketika memikirkan seperti apakah nanti kalau diberi umur panjang, bayanganku adalah nenek-nenek menjahit di sebuah ruangan penuh kain-kain cantik. Di sebelah ada bengkel dengan kakek-kakek asik sendiri ngutak ngatik onderdil kendaraan dengan teknologi tahun 2040. Kemudian lewat jendela antara kedua studio itu kami berdua ketawa ketiwi membahas hal-hal nggak penting sambil berkarya di bawah atap yang sama. #relationshipgoals

Maka teringatlah 2 orang yang sudah saya kenali cukup lama. Mereka adalah 2 perupa senior wanita, yang menikahi pria seniman hebat juga, dan sampai di usia lanjut mereka tetap berkesenian. Tak melupakan tugas-tugasnya sebagai istri dan ibu, tapi juga mampu mengekspresikan dirinya lewat karya. Bagiku mereka istimewa, karena beruntung bisa mendapatkan jodoh yang menekuni dunia yang sama, sebab sesama seniman bisa lebih mudah saling mengerti. Namun di sisi lain, rumah tangga yang dibangun oleh 2 seniman kadang bisa berakibat chaos (been there haha….) dan mereka menaklukkannya dengan sukses.

Maka menjadi sebuah kehormatan bagi saya untuk bisa bertukar pikiran sambil mendesainkan baju yang sesuai karakternya masing-masing. Ini adalah sebuah project yang “lucu-lucuan”, tapi sungguh berkesan buatku, karena setiap pertanyaan untuk mereka, sebenarnya merupakan pertanyaan untuk diriku juga… ya, karena, suamiku pun seorang desainer. Hanya bedanya, kalau saya mendesain baju, dia mendesain motor.

Hari ini, saya akan post tulisan yang pertama, yaitu mengenai Tante Erna.

Ibarat bunga kembang raya (atau hibiscus) yang tidak kenal musim dan selalu berbunga walau tidak pernah lebat, Erna Garnasih Pirous tidak selalu berkarya sepanjang waktu, namun tetap konsisten dan tidak pernah berhenti berkreasi. Pameran tunggalnya "Bagai Kembang Raya Dia Mekar Setiap Hari" di Serambi Pirous, Bandung yang baru saja usai menampilkan 13 drawing dan 30 lukisannya dari tahun 1963 hingga 2017 membuktikan konsistensinya itu. Cerita dari putranya, "Melukis adalah bagian dari mencatat peristiwa-peristiwa personal yang dialami sebagai seorang perempuan, seorang istri, dan ibu dari 3 anak. Dia melukis pemandangan yang terlihat dari jendela rumah serta membuat sketsa figur dengan model anak-anaknya sendiri. Mamah melukis dengan rileks dan penuh dengan warna-warna cerah. Dunia rasanya manis".

Sang suami, A.D. Pirous, seorang pelukis yang juga masih aktif dan menjadi tokoh penting dalam perkembangan seni rupa kontemporer Indonesia, bercerita kepada saya beberapa bulan lalu, "Tante sudah berjasa puluhan tahun mensupport Oom dalam karir maupun keluarga. Oom sangat bersyukur. Sekarang, giliran dia lah untuk maju menunjukkan karya-karyanya yang luar biasa ini. Oom dan anak-anak akan mendukung dengan cara apapun agar pameran tunggal ini terlaksana." 

Lalu, berikut adalah wawancaraku dengan Tante Erna.

Pasangan yang sama-sama bergelut di bidang seni tentunya ada suka dukanya. Di satu sisi, saling mengerti dan support. Tapi di sisi lain, biasanya sama-sama punya ego tinggi. Apa tipsnya supaya tetap langgeng?
 

Soal seorang seniman punya ego tinggi, jawabannya IYA. Antara kami berdua, tetap aman saja mungkin karena saya dibesarkan dalam keluarga yang menganggap bahwa keluarga itu no. 1, dan suami adalah nakhoda di dalam keluarga. Jadi kami ibarat sebuah kapal yang berlayar mengarungi samudera dimana tujuan akhir adalah kesejahteraan keluarga. Dan Tante sebagai perempuan karena kodratnya, dan seorang ibu, menjaga perbendaharaan seluruh isi kapal, sehingga berlayar dengan lancar menuju tujuannya.

Disini ada pembagian tugas, suami yang mencari nafkah dan menjadikan kami bermartabat. Sedangkan Tante mengelola urusan keluarga, pendidikan anak-anak dan segala tetek bengek keluarga.

Cerita-cerita soal masa itu, di kala Tante tidak bisa bekerja dengan cat akrilik dll. untuk melukis (karena melukis membutuhkan waktu bekerja yang total tanpa interupsi), Tante bermain membuat jewelry dengan email (enamel) dingin, karena pekerjaannya bisa ditinggal-tinggal. Prinsipnya, menggambar dengan cat yg tidak berbahaya dan bisa dilakukan di waktu senggang yang relatif singkat ketika siang anak-anak sudah sekolah, dan malam di saat mereka sudah selesai belajar. Tante bisa asyik bekerja sampai jam 2 pagi lho. Kebetulan dibuatkan studio bengkel jewelrynya di seberang kamar tidur, waktu tinggal di jl. Cisitu Indah dulu. 

Apakah sering mengalami dilema dalam memilih antara ingin fokus berkarya atau mengurus rumah tangga? Bagaimana mencari keseimbangan di antara kedua hal itu?
 

Ya itu tadi, karena keluarga mendapat tempat teratas, dan kebetulan Tante menikmati membesarkan anak-anak serta pekerjaan mengurus rumah tangga, itu sesuatu yang menyenangkan. Kadang-kadang terlalai untuk bekerja melukis di studio. Tante suka dengan rumah yang beres rapih dan menikmati berkreasi waktu memasak makanan atau buat kue/penganan yang sehat dengan tampilan yang cantik menarik dan merasa puas sekali waktu mendengar ucapan penghargaan dari anak-anak dan suami.

Sekarang anak2 sudah dewasa dan mandiri. Apakah setelah "bebas tugas" membesarkan anak, keinginan untuk berkarya lagi jadi semakin kuat? Dan apakah terasa kemampuan berkarya itu sempat tertinggal karena sekian lama tidak fokus 100% di situ, atau justru dengan pengalaman berkeluarga, menjalani hidup sekian lama justru semakin matang sekarang dalam berkarya?
 

Perbandingan antara keluarga dan berkarya, tetap 50 - 50 (%). 

Ketika dulu mulai berkarir di bidang seni, apakah mengalami kesulitan mendapat kesempatan atau diskriminasi karena sebagai perupa wanita?
 

Tidak ada kesulitan. Antara seniman pria dan wanita di Indonesia tidak ada penilaian berbeda karena gender nya. Hanya dalam hal ini, mungkin seniman wanita yang berkeluarga lebih sedikit punya waktu untuk bekerja di studionya. Kalau penilaian tetap tergantung kualitas karya.

Pattern That Talk, 2003, mixed media, akrilik di atas kanvas, 200x200cm

 
Ada satu karya Tante yang berbeda dari yg lain, yaitu menampilkan motif dekoratif seperti batik. Bisa diceritakan karya ini tentang apa?
 

Motif batik dalam karya Tante, mulanya tidak sengaja. Dulu Tante punya blus dari Malioboro yang lagi trend dibuat dari batik lawas dan dikombinasi dari berbagai motif/warna serta kadang dicelup lagi. Ketika blus itu sudah tidak layak pakai, Tante “bedel”, diambil polanya yg terdiri dari 4 potongan. Jadilah 3 lukisan dengan menempelkan pola batik tadi diatas kanvas, dengan maksud memberi penghormatan pada pembuat batik itu (yang pada waktu itu pastilah ibu pembuat batik itu sudah meninggal, dan Tante tidak sampai hati seandainya batik tulis yang dibuatnya akan dicampakkan jadi lap begitu saja).  

Ada nasehat khusus untuk seniman/desainer wanita di jaman sekarang?
 

Jangan lupa sebagai seniman harus konsisten berkarya, bagi yg mengemban tugas “ibu Rumah Tangga”, memang agak sukar, harus bisa mencuri waktu bekerja di studionya, kalau tidak, akan terkalahkan karena kenyamanan dan bahagia melihat tumbuhnya anak-anak yang berkembang dengan baik sessuai dengan harapan orang tua.