Media & Events

Indische & Rengganis Trunk Show for Indonesian Spice Journey by Raffles October 08 2017

See video : https://www.youtube.com/watch?v=tb9xXrZftI4&t=66s

Baduy Transposed : Traditional Textile Meets Contemporary Design September 11 2016

Ketika beberapa bulan lalu saya bercerita ke teman-teman bahwa saya mau mendesain dengan kain Baduy, tidak sedikit dari mereka yang berkomentar serupa : “Untuk apa garap Baduy?”, “Mereka sudah over exposed”, “Apa bagusnya kain mereka?”... dan pertanyaan yang paling membuat saya berpikir adalah “Memangnya Baduy perlu ditolong industri tenunnya? Bukannya mereka juga tertutup terhadap segala macam bentuk pengembangan? Apalagi ekonominya! Nanti malah problem ketika kamu butuh kain jumlah banyak” dan seterusnya ...

Tapi saya hanya tersenyum… Karena saya punya alasan tersendiri mengerjakan proyek ini.

Berawal dari ide dari Isti Dhaniswari (seorang teman, senior kuliahku di Desain Produk ITB dan trend researcher yang membuat buku Trend Forecasting setiap tahunnya untuk pelaku kreatif Indonesia), saya diminta untuk tengok dari dekat kain Baduy, di sebuah acara bagus sekali bernama Baduy Kembali, pameran dan diskusi yang diadakan oleh Kompas.com di Bentara Budaya Jakarta. Di situ mereka menampilkan segala aspek sejarah, kultur, alam Baduy termasuk dampak-dampak sosiologis dan ekonomis yang sedang terjadi di sana. Artefak-artefak budaya menenunnya pun dipamerkan dengan apik. Di situlah saya jatuh cinta dengan hasil tenunan mereka. Sederhana, geometris, bertekstur. Dan 100% katun!!! And I thought to myself : “Now THIS …. is what I need for my next collection!”

Sudah lama saya sebenarnya ingin mengembangkan koleksi baru yang lepas dari “pakem” Indische yang siluetnya kadung sangat tradisional/etnik. Walaupun saya juga membuat banyak casualwear, tetap saja Indische tidak bisa lepas dari "image" Kebaya dan batik. Sedangkan saya ingin membuat sesuatu yang bisa diterima oleh konsumen yang lebih luas, bahkan bisa mengenalkan kekuatan tekstil "handweaving" Indonesia di ranah fashion modern/global, karena prediksi saya, pasar akan mulai jenuh dengan fashion gaya “etnik” yang cenderung ramai, kurang elegan dan “not for everyone”. Maka terjadilah eksperimen ini. Tekstil Baduy, digarap dengan metoda Trend Decoding berdasarkan buku Isti, GreyZone 2017/18 Trend Forecasting. (Sumpah, ini buku berguna sekali! Yang bergerak di bidang desain, wajib punya buku ini!)

Tujuan dari project ini adalah eksperimentasi untuk membuktikan bahwa tekstil Baduy layak untuk dijadikan bahan fashion, tanpa harus banyak merubah desain maupun teknik produksinya. Ada beberapa brand lain yang sudah lama membina pengrajin Baduy dan mempromosikan produknya dengan sangat bagus, melibatkan pengembangan desain yang mendalam dari sisi motif maupun teknik pewarnaannya. Itu bagus sekali, tapi berbeda dengan tujuanku pribadi, yaitu ingin menciptakan desain sederhana yang memungkinkan penyebaran sourcing ke seluruh desa. Yang ingin saya lakukan adalah justru memanfaatkan motif dan warna apa adanya, sehingga mudah bagi seluruh masyarakat tenunnya untuk membantu supply bahan sehingga tidak begitu sulit untuk memenuhi demand pasar (KALAU terbukti desain-desain saya laku lho ya, boleh dong optimis).

Selama 2 bulan lebih saya garap desain koleksi baru ini, otomatis saya banyak bertanya soal permasalahan yang dihadapi oleh pengrajin dari segi produksi hingga marketing : keterbatasan sumber benang, proses pewarnaan, dan persoalan-persoalan lain sebagainya. Ini kalau dibahas jadi panjang. Tapi yang paling penting buat saya adalah menjawab pertanyaan : apakah eksplorasi tenun Baduy ini memang berguna untuk mereka? Karena dulunya, masyarakat Baduy Dalam memulai budaya tenun dengan diwajibkan memakai hasil tenunan sendiri setiap harinya, bukan untuk diperdagangkan. Maka sering terpikir, kita-kita ini yang mengeksploitasi mereka jangan-jangan malah mengganggu kultur dan kehidupan mereka yang damai!

Tetapi fakta berkata lain. Ternyata, penduduk Baduy Dalam sendiri sekarang sudah jarang menenun lagi. Masyarakat Baduy Luar sudah mengambil alih “budaya” menenun ini menjadi sebuah “sumber ekonomi”. Saat ini, ada sekitar 700 penenun tersebar di wilayah Baduy Luar dan menurut hasil sensus ekonomi pemerintah 2015, hasil tenunan para ibu-ibu ini sudah mengkontribusi lebih dari 60% nilai ekonomi seluruh wilayah Baduy Luar, melebihi penghasilan dari para suami (dari kerajinan lain, tas koja, gula aren dan berladang). Maka dari itu, tidak ragu-ragu lagi lah saya, untuk melanjutkan proyek ini karena berarti ini sudah menjadi sebuah industri (walau kecil) yang layak dieksplorasi. Kendala teknis seperti kapasitas produksi, sumber bahan baku, pemasaran, dll. juga serupa dengan apa yang dialami kelompok pengrajin daerah lainnya di Indonesia sehingga ini layak dijadikan studi kasus penerapan prinsip Slow Fashion. Cita-cita saya memang suatu saat bisa menggarap tekstil berbagai wilayah, dengan pola pendekatan yang sama seperti ini.

Lalu, kembali lagi ke pertanyaan : Untuk apa garap Baduy? Mereka kan sudah over exposed?

Jawaban saya adalah "tidak ada istilah over exposed selama pengrajinnya masih butuh order". Yang saya buat di sini tidak istimewa, desainnya sangat sederhana dan tidak menjual cerita filosofi ataupun karakter ke”Indonesiaan” sama sekali. Bahkan desain ini bisa saja muncul dari desainer belahan dunia manapun. Tetapi justru itu yang ingin saya capai… Hanya untuk membuktikan bahwa kain tradisional yang sederhana ini bisa menjadi sesuatu yang menarik, berkualitas dan sesuai trend pasar modern.

Semoga semakin banyak desainer lain yang terinspirasi untuk memakai tenunan asli buatan tangan ini, demi semakin berragamnya karya fashion tanah air, serta wibawa tenunan Baduy mulai disejajarkan dengan tenunan wilayah-wilayah eksotik lainnya.

Untuk melihat koleksi lengkapnya, klik sini.

 


Indonesian Culinary & Fashion Delights 2015, Fashion Show at Lisbon Portugal January 02 2016

Created by the the Indonesian Embassy of Lisbon, Portugal, this event was meant to promote the culture of Indonesia, in a new way other than the usual "evening of traditional food and dances". They wanted to present something more relevant.

Introduction to Helianti Hilman's amazing Javara Indigenous Indonesia's finest artisanal & heritage food products and live demo of Chef Rahung Nasution's cooking is hoped to inspire, and actually make it possible for people abroad to make Indonesian inspired cuisines.

The culinary experience was also supported by a vast menu of delicious traditional homecooking by the Indonesian community in Lisbon, and each menu is personally served in "warung style" and ingredients are explained to every guest.

Whereas Indische was presented to show people how Indonesia's signature design and craftsmanship can actually be transformed into something wearable by everyone, starting from the casual kebaya to contemporary summerwear.

I think it is a smart concept that should be perfected and adapted into Indonesia's other cultural missions around the world, because the potentials are widened towards possible trade rather than only introducing the culture.

Bravo to the amazing team of our embassy staff at Lisbon especially Pak Pof Yusuf who passionately went beyond his duties to make this happen. I hope we can collaborate again in the future!!

And thanks to the models who were actually university students who volunteered for this event. You are gorgeous!

Necklaces supported by Glue Indonesia by Grace Indira Patty.

Earrings supported by Trapart by Nunun Tjondro

Makeup by Ana Delgado

Balinese Gamelan by the Portuguese group Bateria

 

Behind the Scene


Jakarta's Youth : Brains & Beauty - Fashion Show Modelled by University Students October 02 2015 4 Comments

Design Thinking Seminar & Talk Show by HDII (Himpunan Desainer Interior Indonesia) - Photography by Ferry Kana & Gogor Pandu - Location : Indonesia Convention Exhibition BSD City Jakarta

2 months ago, Indische had the amazing opportunity to dress up 26 everyday women, who are my childhood friends, all now over 40 years old. They turned out beautiful, and we realised how easily Indische can be styled to fit women of all sizes. Read the complete story here.

And today, another interesting event came up. I had a solo fashion show in front of Jakarta's young university students, with them as the models as well! And guess what? They looked gorgeous also!!! So I am confident to say that Indische really can be worn by EVERYONE. 

I was informed about the fashion show just 10 days before. It was a private show for design students and practitioners who were attending the Design Thinking Seminar & Talk Show held by HDII (the Indonesian Interior Designer Association). The theme of the seminar was about personal branding, reinventing heritage, and it also happened to be Indonesia's National Batik Day. Luckily, it only took a couple of days to collect 13 girls and 2 boys from Interior Design & Architecture students from various universities in Jakarta (Universitas Indonesia, Trisakti, Mercubuana, and Binus). And oh my.... the girls were sooo pretty.... Brains and beauty at its best! 

After the show 

Behind The Scene

To make sure this fashion show would run smoothly, I asked my multi-talented friend Grace Indira Patty to help me out with the choreography, music arrangement and additional make-up. I have known her for over 25 years and I've wanted to collaborate with her for so long. At last the opportunity has come! It was such a blessing to experience working together with her even for just 2 days. For sure more will happen in the future.

The preparation of the clothes and the show was really easy... But for days I was very nervous because for the first time, I was going to do the make up myself. Yes, crazy as it sounds, I wanted to be in control of it because too many times I have seen fashion shows done by make up artists, which ended up too thick, too old, or simply too much. With the assistance of Grace, and one of my favorite models Annisa Zani who does better eye brows than me, the three of us succeeded in keeping the girls looking smart, fresh and young. 

Talking to these girls while putting on their make up gave me such a positive feeling about what I thought was an unpromising young generation. Particularly some.... who are smart, ambitious, and beautiful at the same time, they have so much opportunities and challenges ahead. 

And my message to them : at your age, you can do anything. Learn everything. Then find your passion. Once you find your passion, love it and work hard for it, and life will be good. 

 


26 Perempuan, 26 Tahun Kebersamaan, Rayakan Aneka Warna Perempuan Indonesia September 21 2015 3 Comments

Fotografi oleh Ferry Kana - Busana oleh Indische - Make Up & Rambut oleh Berti - Jilbab Styling oleh Ira Syafitri - Lokasi : The Kartipah, Bandung 

Perkenalkan, ini teman-temanku. Kami semua adalah ibu-ibu biasa yang berkeluarga dan bekerja seperti kebanyakan wanita lainnya. Passion yang tinggi membuat kami bahagia karena bisa mencintai pekerjaan yang kami lakukan, dan mengerjakan apa yang kami cintai. Semangat ini lah yang membuat seorang wanita bisa tampil percaya diri dan cantik dengan caranya sendiri-sendiri, berapa pun usianya. Dan sepertinya, itu sudah mendarah daging di antara seluruh teman-temanku seangkatan di SMA Taruna Bakti ini. Maka di saat tercetus ide membuat sebuah reuni, kami serempak tahu, ini tidak akan menjadi reuni biasa. 
Baca selengkapnya tentang persahabatan unik Taruna Bakti.

17 Agustus 2015, adalah hari kami berkumpul, untuk memaknai kemerdekaan Indonesia dengan cara kami sendiri. Sebuah piknik, sekaligus photo shoot untuk mengeksplorasi sisi “Wanita Indonesia” kami yang bermacam-macam bentuknya.

Cuaca bersahabat menemani piknik dengan iga bakar dari Iga Dullers. Catat ya, itu minumannya temu lawak asli, bukan bir!

Cemilan yang bikin ga bisa berhenti, homemade nachos dari Letta's Kitchen.

Tampaknya memang kami terlalu bersenang-senang. Tapi jangan salah! Bermain-main dengan styling pakaian, make-up & asesoris bergaya “lokal” ini bukan hanya soal kesenangan perempuan dengan fashion, tapi ini persoalan sumbangsih kepada ekonomi negara dan pelestarian budaya bangsa. Kadang kita perlu mengingatkan diri sendiri tentang siapa kita, dengan cara yang sederhana. Apa lagi yang bisa kita perbuat, selain berbangga jadi perempuan Indonesia? Teruslah berkarya. Hargai perbedaan yang membuat kita semua unik tapi satu. Bawakan diri sebagai wanita Indonesia yang keren, apapun bentuk tubuh dan usia kita!

Baca selengkapnya mengenai Mencintai Produk Lokal, dan Patahkan Stereotip : Tampil dengan Gaya Etnik untuk Tubuh Berukuran Besar.

Merdeka!

 


Mencintai Produk Lokal September 17 2015

Fotografi oleh Ferry Kana - Busana oleh Indische - Make Up & Rambut oleh Berti - Lokasi : The Kartipah, Bandung

Kita semua tahu, semakin banyak hasil produksi industri lokal yang kita pakai, semakin besar peran kita dalam menghidupkan ekonomi negara. Tetapi jangan berhenti di situ! Carilah produk yang merupakan hasil UKM, handmade, seperti batik, tenun dan bordir tangan. Yang akan terbantukan secara langsung adalah pengrajin-pengrajin lokal yang tekun melestarikan budaya bangsa. Mereka tidak peduli pada fashion, trend dan profit besar. Mereka hanya ingin dihargai pekerjaannya yang rumit itu.
Kalau kita rajin mencari, banyak sekali produk handmade yang berkualitas, dan desainnya cocok untuk berbagai kebutuhan, dari yang simple untuk sehari-hari, rapi untuk bekerja, nyaman untuk traveling, mewah untuk pesta, kebaya untuk acara resmi, sopan untuk hijab. Soal styling memang harus dipelajari, tapi kalau memang niat, akan menyenangkan karena kita bisa mengoleksi produk-produk yang sifatnya limited items alias tidak ada banyak di pasaran, sehingga kita bisa memiliki indivual style yang susah ditiru orang lain. Selain itu, kalau pintar-pintar memilih, banyak produk lokal yang memiliki nilai craftsmanship tinggi seperti batik tulis, tenun asli, sulaman, yang nantinya akan semakin berharga sebagai collector’s item dan menjadi harta yang dapat diwariskan kepada anak cucu kita.